Monday, August 10, 2009

Your Words Have Impact


Dalam perjalanan dari bandara ke rumah, saya menyempatkan berbincang-bincang dengan supir taksi untuk menghilangkan kebosanan di tengah kemacetan. Saya menanyakan sudah berapa lama di perusahaan taksi ini. Lalu supir ini menjawab "Baru 2.5 tahun". Dengan rasa penasaran saya kembali menanyakan, "Sebelumnya bekerja di perusahaan taksi lain Pak ?", dan kemudian supir ini menjawab dengan santai "Saya sebelumnya adalah supir pribadi untuk sebuah keluarga", "Hampir kurang lebih 10 tahun saya menjadi supir pribadi", kenang supir tersebut.

Apa yang memutuskan Bapak untuk berhenti dan pindah ke perusahaan taksi ini?, tanya saya Supir ini mulai mencurahkan perasaannya dengan bercerita bahwa suatu ketika ia tidak sengaja menghilangkan tiket parkir, dan sang majikan marah besar dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan perasaannya. Dua hari supir ini tidak masuk kerja karena memikirkan perkataan sang majikan. Sakit hati, sedih, kecewa menyelimuti perasaan supir ini saat itu. Akhirnya supir ini memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai supir pribadi dan pindah ke perusahaan taksi.Meskipun supir ini tidak mengungkapkan perkataan apa yang terlontar dari majikannya dulu, tapi dari raut mukanya saat cerita masih terlihat kekesalan tersimpan.

Pembaca yang setia, malam itu saya belajar suatu hal bahwa apa yang keluar dari mulut kita memiliki dampak yang sangat besar. Pada salah satu artikel saya di dalam buku Think and Act like A Winner yang berjudul Your Words can change everything, saya mengungkapkan bagaimana perkataan yang keluar dari mulut kita dapat mengubah sesuatu. Pengalaman hidup supir ini mengingatkan kita kembali bahwa perkataan yang keluar dari mulut kita perlu di jaga dengan baik dan positif. Mungkin dalam situasi tertentu kekesalan, amarah, emosi Anda memuncak, tapi sebelum Anda bertindak baik itu menegur atau memarahi, pikirkan lebih dahulu dengan kepala dingin.

Tulisan ini bukan untuk menggurui, tapi tulisan ini menjadi permenungan kita bersama terhadap tingkah laku, perkataan, perbuatan yang sudah kita lakukan kepada rekan kerja, bawahan, keluarga, dan orang yang kita cintai. Saya teringat sebuah kata bijak yang luar biasa mengatakan "They may forget what you have said, but they will never forget how you made them feel".

Mereka mungkin lupa apa yang pernah Anda katakan, tapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana Anda membuat mereka merasakannya. Mari mulai saat ini, Anda , saya dan kita semua membenahi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam mengeluarkan kata-kata. Perkataan kita bisa memotivasi orang, perkataan kita bisa menggerakan orang ke arah yang positif, tapi perkataan kita juga bisa membuat orang kecewa dan sedih. Mana yang Anda pilih teman?. Tak peduli apa profesi Anda, politikus, artis, guru, manager, penyanyi, pengusaha, penjaga toko, perkataan yang keluar dari mulut Anda bisa memberi dampak bagi orang sekitar. Semoga kita semua bisa memilih apa yang sepantasnya keluar dari mulut kita dengan bijaksana.


Oleh : Muk Kuang

Thursday, July 23, 2009

Bekicot...oh, Bekicot...!



Escargot, masakan Perancis yang mahal dan terkenal itu terbuat dari daging bekicot. Bekicot adalah siput besar berwarna coklat tua yang menjijikkan bagi sebagian orang. Bekicot dianggap hama oleh para petani. Dan bekicot adalah mainan saya saat saya masih kecil, saat berusia sekitar 5 tahun!
Saya teringat kembali semasa saya masih kecil. Tiap pagi hari, di kebun rumah nenek saya sering menemukan banyak bekicot yang merayap perlahan di tembok pembatas kebun. Mereka seperti berlomba-lomba merayap mendaki tembok tersebut.

Dengan isengnya, saya bermain-main dengan ujung jari telunjuk saya menyentuh tentakel mereka yang berbentuk seperti sepasang antena. Setiap kali tentakelnya tersentuh, bekicot akan langsung terkejut. Seketika bekicot akan menyurutkan sepasang tentakel beserta tubuhnya yang lunak berlendir masuk ke dalam cangkangnya, bersembunyi sampai situasi dianggapnya aman kembali.

Tetapi setelah beberapa saat, mereka pasti akan mengeluarkan tubuhnya kembali beserta tentakelnya. Lalu merayap kembali melanjutkan perjalanannya mendaki tembok. Dan pada saat itulah saya kembali menyentuh tentakel mereka satu persatu sambil berteriak kegirangan. Begitulah saya mempermainkan bekicot-bekicot itu secara terus menerus.

Karena merasa bosan, terkadang saya menjatuhkan mereka satu persatu dari tembok dan mencampakannya ke permukaan tanah yang masih lunak karena embun pagi. Tetapi setiap kali mereka terjatuh, mereka akan selalu berusaha merayap kembali mendaki dinding tembok yang sama. Sampai akhirnya saya merasa bosan dan meninggalkan mereka untuk bermain ke tempat yang lain.

Beberapa jam kemudian saya kembali menemui para bekicot yang saya tinggalkan tersebut. Ternyata mereka dengan perlahan telah berhasil mendaki tembok yang begitu tinggi. Begitu tingginya sampai tangan saya tidak dapat menjangkau mereka lagi. Sehingga terbebaslah mereka dari kejahilan saya.

Merenungkan pengalaman saya semasa kecil, saya mendapatkan suatu pelajaran yang sangat berharga. Inilah bagian dari pembelajaran kehidupan atau sekolah kehidupan atau universitas kehidupan (university of life). Pelajaran berharga yang saya ajarkan di Sekolah Bisnis Gratis USB. USB adalah Sekolah Gratis yang saya dirikan untuk membantu para generasi muda agar memiliki kehidupan sukses sesuai dengan pilihan lifestyle mereka sendiri.

Belajar dari pengalaman saya di masa kecil.

Manusia dalam kehidupannya mirip dengan para bekicot yang saya ceritakan tadi. Mereka berlomba-lomba mendaki ”tembok kesuksesan” dalam hidupnya. Tetapi di tengah perjalanan mencapai kesuksesan, nasib sering mempermainkan mereka. Seperti ujung jari telunjuk anak kecil yang membuatnya takut atau merasakan sakit.

Bahkan nasib juga terkadang mencampakkan kita ke tempat yang ”paling bawah”, situasi yang paling tidak diinginkan terjadi. Seperti bekicot yang terkejut tiba-tiba dicampakkan dari atas tembok ke tanah oleh seorang anak kecil. Merasakan sakit dan tidak berdaya. Sepertinya perjuangan selama ini untuk mencapai kesuksesan seketika menjadi sia-sia.

Tetapi… BERGURULAH pada BEKICOT. Bekicot hanya berlindung di cangkangnya, berdiam diri sebentar mengevaluasi situasi yang terjadi setiap kali mendapatkan rintangan atau kegagalan. Dan selalu kembali berusaha melanjutkan perjalanan setelah situasi dianggap aman.

Sekali pun pada suatu saat anda terjatuh ke dasar jurang kegagalan hidup yang paling kelam, karena dipermainkan oleh nasib. Tetaplah beranjak kembali merayap, mendaki tembok kesuksesan anda.

Pada suatu saat, nasib akan bosan mempermainkan anda. Pada suatu saat anda akan berhasil mencapai suatu puncak kesuksesan! Akan ada saat-saat di mana nasib tidak akan mampu mempermainkan anda lagi.

Tembok kesuksesan itu tetap ada, dari dulu sampai sekarang, bahkan sampai masa mendatang. Tuhan telah mendirikan tembok kesuksesan untuk dapat anda daki. Tembok kesuksesan yang tetap menanti untuk di daki oleh siapa saja insan ciptanan Nya yang tidak pernah mau menyerah pada nasib!

Inilah Faktor X ke empat dari fondasi kesuksesan, yaitu X-tra Coba 1 Kali Saja tiap kali mengalami kegagalan. Anda dapat juga membacanya lebih lengkap lagi di buku “8 Langkah Ajaib Menuju ke Langit”. “Buku Ajaib” yang telah mengubah pikiran dan nasib banyak pembacanya, demikian komentar banyak orang yang telah membacanya.

Oleh : Victor Asih

Tuesday, July 21, 2009

Pelajaran Dari Sebuah Ember


Suatu hari, seorang guru berbicara di depan sekelompok mahasiswa bisnisnya, dan ia berusaha mengajarkan sesuatu dengan memakai ilustrasi yang tidak akan dengan mudah dilupakan oleh para siswanya. Ketika dia berdiri dihadapan siswanya dia mengeluarkan ember berukuran galon yg bermulut cukup lebar, dan meletakkannya di atas meja.
Lalu ia juga mengeluarkan sekitar selusin batu berukuran segenggam tangan dan meletakkan dengan hati-hati batu-batu itu ke dalam ember. Ketika batu itu memenuhi ember sampai ke ujung atas dan tidak ada batu lagi yg muat untuk masuk ke dalamnya, dia bertanya: "Apakah toples ini sudah penuh?" Semua siswanya serentak menjawab, "Sudah!" Kemudian dia berkata, "Benarkah?" Dia lalu meraih dari bawah meja sekeranjang kerikil. Lalu dia memasukkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember sambil sedikit mengguncang-guncangkannya, sehingga kerikil itu mendapat tempat diantara celah-celah batu-batu itu.

Lalu ia bertanya kepada siswanya sekali lagi: "Apakah ember ini sudah penuh?"

Kali ini para siswanya hanya tertegun, "Mungkin belum!", salah satu dari siswanya menjawab. "Bagus!" jawab sang guru. Kembali dia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan sekeranjang pasir. Dia mulai memasukkan pasir itu ke dalam ember, dan pasir itu dengan mudah langsung memenuhi ruang-ruang kosong diantara kerikil dan bebatuan. Sekali lagi dia bertanya, "Apakah ember ini sudah penuh?"

"Belum!" serentak para siswanya menjawab.

Sekali lagi dia berkata, "Bagus!"

Lalu ia mengambil sebotol air dan mulai menyiramkan air ke dalam ember, sampai ember itu terisi penuh hingga ke ujung atas. Lalu si guru ini memandang kepada para siswanya dan bertanya: "Apakah maksud dari ilustrasi ini?"

Seorang siswanya yg antusias langsung menjawab, "Maksudnya, betapapun penuhnya jadwalmu, jika kamu berusaha kamu masih dapat menyisipkan jadwal lain kedalamnya!" "Bukan!", jawab si guru, "Bukan itu maksudnya. Sebenarnya ilustrasi ini
mengajarkan kita bahwa: JIKA BUKAN BATU BESAR YANG PERTAMA KALI KAMU MASUKKAN, MAKA KAMU TIDAK AKAN PERNAH DAPAT MEMASUKKAN BATU BESAR ITU KE DALAM EMBER TERSEBUT.

***

"Apakah batu-batu besar dalam hidupmu? Mungkin anak-anakmu, suami atau istrimu, orang-orang yg kamu sayangi, persahabatanmu, kesehatanmu, mimpi-mimpimu. Hal-hal yg kamu anggap paling berharga dalam hidupmu. Ingatlah untuk selalu meletakkan batu-batu besar tersebut sebagai yg pertama, atau kamu tidak akan pernah punya waktu untuk memperhatikannya. Jika kamu mendahulukan hal-hal yang kecil dalam prioritas waktumu, maka kamu hanya memenuhi hidupmu dengan hal-hal yang kecil, kamu tidak akan punya waktu untuk melakukan hal yang besar dan berharga dalam hidupmu".

Inilah salah satu yang diajarkan dalam manajemen waktu dimana manajemen waktu dapat berupa perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan produktivitas atas waktu. Waktu menjadi salah satu sumber daya unjuk kerja. Sumber daya yang mesti dikelola secara efektif dan efisien. Efektivitas terlihat dari tercapainya tujuan menggunakan waktu yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan efisien tidak lain mengandung dua makna, yaitu: makna pengurangan waktu yang ditentukan, dan makna investasi waktu menggunakan waktu yang ada. Manajemen waktu bertujuan kepada produktifitas yang berarti rasio output dengan input. Tampak dan dirasakan seperti membuang-buang waktu dengan mengikuti fungsi manajemen dalam mengelola waktu.

Merencanakan terlebih dahulu penggunaan waktu bukanlah suatu pemborosan melainkan memberikan pedoman dan arah bahkan pengawasan terhadap waktu. Dari tinjauan secara komprehensif pekerjaan yang hendak dikerjakan dan rumusan tertulis sebuah rencana dapat diketahui prioritas hubungan antar aktivitas yang akan dikerjakan sendiri serta didelegasikan. Jebakan yang sering muncul disini adalah rasa percaya diri dapat cepat bila dikerjakan sendiri dimana itu perasaan yang kurang tepat. Setelah pengorganisasian terjadi maka penggerakan pun dilakukan yang mencakup pelaksanaan sendiri dan pemberian motivasi kepada pemegang delegasi. Satu hal yang penting ialah komitmen kuat untuk konsisten pada rencana dan mengeliminasi gangguan-gangguan termasuk permintaan bantuan dari atasan maupun bawahan dengan cara berani mengatakan "TIDAK".

Akhirnya setelah selesai tuntas pekerjaan dilakukan pengawasan berdasarkan rencana, yang tidak lupa memberikan reward terhadap keberhasilan. Dalam situasi waktu sesuai rencana belum habis sedangkan pekerjaan telah tuntas seyogyanya dipergunakan untuk menambah kuantitas, merencanakan pekerjaan selanjutnya dan atau investasi waktu. Akhirnya, kualitas manajamen waktu berpedoman kepada empat indikator,yaitu: tetap merencanakan, tetap mengorganisasikan, tetap menggerakkan, dan tetap melakukan pengawasan.

Oleh :Sugeng DT