Wednesday, February 17, 2010

The Best Managers are Great COACHES ...


Manajer yang terbaik adalah coach yang hebat. Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa?
Tugas seorang manajer adalah menyukseskan tujuan perusahaan melalui orang lain. Manajer yang efektif mampu mendorong, mendongkrak, memotivasi, dan mengeluarkan potensi terbaik setiap anak buahnya. Seorang manajer bukan orang yang paling sibuk, karena ia sanggup memberi delegasi yang pas kepada orang yang pas di waktu yang pas.

Kesulitan yang di hadapi oleh banyak manager antara lain:
• Sudah bosan memotivasi anak buah tapi perilakunya tetap tidak berubah ...
• Sulit mengatasi anak buah yang punya hobi mengeluh ...
• Kehabisan waktu untuk me-manage karena sibuk menjadi pemadam kebakaran ...
• Sebagian orang lebih suka menjatuhkan orang lain untuk mendapat perhatian atasan, ketimbang berprestasi ...
• Lelah dengan orang yang tidak kompeten.

Siapa the best manager in the world, jika Anda melihat bidang sepak bola, jawabannya Jose Mourinho. The best manajer mampu melakukan kolaborasi bukan hanya kontrol, melakukan delegasi agar team lebih bertanggung jawab, lebih banyak mendengar dan bertanya, mampu menggali feedback tanpa menghakimi.

Apa benefit seorang manajer yang mampu dan memiliki coaching skill?

Team yang lebih komit. Jika Anda bertanya, siapa motivator terhebat? Menurut saya Empowerment! Ketika Anda sanggup dengan cerdas melibatkan team Anda untuk membuat goal, meningkatkan efisiensi, memperbaiki sistem kerja, melakukan implementasi ide-ide baru, dan mengimplementasi ide yang mereka sumbangkan, team akan lebih committed dan fokus mengerjakan tanggung jawab mereka.

Performa team yang lebih maksimal. Tugas Anda adalah meningkatkan skill team Anda sekaligus meningkatkan performa mereka. Tugas ini adalah ciri dari peranan seorang coach. Coaching mengasah ketajaman berpikir individu, dengan menggunakan pertanyan yang efektif. Secara kolektif, Anda akan menemukan kolaborasi yang positif ketika individu yang intuitif dan penuh inisiatif ini bekerja sama.

Team work yang lebih harmonis. Seorang manajer juga berperan menciptakan team work dalam mencapai tujuan. Manajer yang juga seorang coach yang baik akan men-support rasa percaya antar individu dan terhadap perusahaan yang menghasilkan suasana kerja yang nyaman. Apakah artinya semua harus memberi toleransi kepada semua orang? Tentu tidak, proses menciptakan rasa percaya akan lebih mempermudah pencapaian goal karena bekerja menjadi enjoy.

Lebih kreatif, penuh ide baru. Jika Anda pernah dilatih oleh professional coach, apakah di bidang sport, bisnis, life, atau executive, ada satu ciri yang konsisten, "Mereka selalu mengajukan pertanyaan." Pertanyaan memberi kesempatan kepada team untuk mengekslpor pemikiran yang sebelumnya tidak terpikir. Ide kreatif akan muncul secara dramatis. Coba kalau tidak percaya.

Mendapat Informasi yang lebih akurat. Manajer yang memiliki coaching skill mampu membuka cakrawala berpikir team. Mereka secara tulus mendengarkan feedback yang akhrinya membuat team lebih nyaman mengunkapkan isi hati. Rasa nyaman ini dapat membuat team mau menyampaikan ‘good news' maupun ‘bad news' secara apa adanya. Tahukah Anda, informasi bad atau good adalah informasi yang vital dalam menjalankan peran Anda sebagai manajer?

Memang ada yang berpendapat, wah coaching takes time! Saya jawab, yes, Anda harus invest time to gain time. Seperti Anda harus investasi uang untuk mendapat uang. Pilih mana, jadi pemadam kebakaran terus, atau investasi waktu untuk mengambangkan kualitas dan ketajaman berpikir team agar suatu saat Anda punya waktu bebas untuk berprestasi lebih hebat lagi?

Be a great Coach ... be a Great Manager ...

Salam FUNtastic
Oleh : Tom MC Ifle

Wednesday, February 10, 2010

Gara-gara Rp 300 Juta


Seorang ibu datang ke rumah Pak Gendu membawa sebuah kantong kertas berwarna coklat. “Ini titipan dari suami saya,” ujar sang ibu. Ketika kantong kertas itu dibuka, Hartono terperanjat dan menatap sang ibu dengan pandangan tidak mengerti. “Suami saya titip untuk diberikan kepada Pak Gendu,” ibu setengah baya itu menegaskan.
Sekali lagi Hartono melongok ke dalam kantong kertas itu dan sekali lagi dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Di dalam kantong kertas itu terdapat gepokan uang kertas yang tersusun rapi. Setelah dikeluarkan dan dihitung, jumlah seluruhnya Rp 300 juta! “Jujur saja kami kaget. Tidak terbayang ada uang kontan sebanyak itu dimasukan ke dalam kantong kertas begitu saja,” ungkap Hartono. “Lebih terkejut lagi karena ibu tadi bilang semua uang itu untuk Pak Gendu.”

Kisah di atas diungkapkan Hartono, cucu Pak Gendu, ketika tampil sebagai narasumber dalam diskusi buku yang diselenggarakan Kick Andy Books Club di Toko Buku Kinokuniya Plasa Senayan, Sabtu pertengahan Januari lalu.

Menurut Hartono, ibu tersebut mengaku sang suami yang sedang sakit berat, sebelum ajal menjemput, ingin memberikan uang tabungannya kepada Pak Gendu. Ini semacam wasiat. Keinginan tersebut lahir pada saat dia menonton Kick Andy di Metro TV. Pada saat itu Kick Andy sedang mengangkat topik tentang orang-orang yang dalam keterbatasannya berbuat sesuatu untuk membantu orang lain. Salah satu “pahlawan” yang diceritakan dalam topik itu adalah Pak Gendu.

Pak Gendu adalah seorang “jawara” yang terpanggil untuk merawat dan menyembuhkan orang-orang gila yang berkeliaran di jalanan. Mulanya hati Pak Genduh merasa iba dan tergerak ketika melihat ada orang gila yang dikejar dan dilempari batu oleh anak-anak di kampungnya. Orang gila tersebut lalu dibawa ke rumahnya kemudian dirawat sehingga sembuh. Sejak itu dia dan keluarganya rajin mencari orang-orang gila yang berkeliaran di jalan-jalan untuk dibawa pulang, dirawat, dan disembuhkan.

Pak Gendu kini sudah berumur 80 tahun. Fisiknya sudah lemah. Sakit-sakitan dan mengandalkan kursi roda. Tetapi semangat Pak Gendu tidak pernah surut. Begitu pula kegiatan “menyelamatkan” orang-orang sakit jiwa dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Sampai saat ini sudah ribuan orang gila yang ditampung dan dirawat di rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.

Karena kegiatannya itu, tahun lalu Kick Andy menganugerahi Pak Gendu penghargaan “Kick Andy Heroes”. Acara pemberian penghargaan tersebut ditayangkan di Metro TV. Nah, tayangan tersebutlah yang kemudian menggerakan hati suami sang ibu yang waktu itu sedang menonton acara Kick Andy.

Saya sendiri baru mendengar kisah uang Rp 300 juta tersebut. Di depan para peserta bedah buku “7 Heroes” yang hadir Sabtu itu, secara terbuka dan tulus Hartono – atas nama Pak Gendu dan keluarganya – mengucapkan terima kasih kepada Kick Andy. “Gara-gara nonton Kick Andy, suami ibu itu tergerak untuk menyumbangkan uangnya ke yayasan yang diasuh Pak Gendu,” tuturnya.

Saya tidak dapat mengucapkan kata-kata. Saya terharu. Saya tidak membayangkan sebuah topik yang saya angkat di Kick Andy dapat menggerakan hati seseorang. Saya juga tidak membayangkan jika seseorang yang pada saat itu merasa hendak pergi untuk selama-lamanya, tergerak memberikan tabungannya guna membantu orang lain yang hanya disaksikannya melalui layar televisi.

sumber : kickandy.com

Wednesday, January 20, 2010

Berprestasi di Negeri Orang


Sudah tidak bisa disangkal lagi, mutu pendidikan di Indonesia banyak dikeluhkan berbagai kalangan. Dari tahun ke tahun selalu fasilitas sarana dan pendanaan yang menjadi faktor kendala utama. Dan, ini tentu saja berakibat mutu lulusannya dipertanyakan. Kita mungkin sudah ketinggalan jauh di tingkat regional Asia Tenggara, terutama dari negara Singapura atau Malaysia.
Di tengah keterpurukan soal mutu dunia pendidikan kita, ternyata tidaklah sama dengan tingkat intelegensi manusia Indonesianya. Sejumlah orang Indonesia ternyata banyak yang berotak encer. Mereka bekerja di luar negeri seperti di Eropa, Amerika dan Jepang. Bahkan berhasil menduduki posisi penting.
Suhendra misalnya. Pria kelahiran Jakarta, 17 November 1975 itu, saat ini bekerja pada Badan Peneliti Jerman, BAM di Berlin. Alumnus Universitas Diponegoro Semarang itu berhasil bekerja sebagai peneliti di Jerman setelah meraih gelar doktor di sebuah univeritas teknik di Jerman. Uniknya, Suhendra yang ahli di bidang metal eksplosif itu membiayai kuliahnya dengan bekerja serabutan dan mengumpulkan botol bekas.
Jabatan yang diraih Andreas Raharso mungkin membuat kita berdecak kagum. Pria berusia 44 tahun itu saat ini menduduki pimpinan atau CEO pada sebuah lembaga riset global Hay Group yang berkantor di Singapura. Hay Group sendiri mempunyai jaringan di hampir belahan dunia dan berkantor pusat di Amerika. Klien dari Hay Group ini kebanyakan adalah para pimpinan dunia seperti Amerika serikat, Perancis dan Inggris. Jabatan yang diraih Andreas Raharso cukup fenomenal, karena merupakan satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki posisi puncak. Selama ini jabatan itu didominasi warga Amerika dan Eropa.
Satu lagi orang Indonesia yang berhasil menduduki posisi penting adalah Profesor Yow Pin Liem. Pria 49 tahun asal Cirebon, Jawa Barat itu adalah pimpinan dan pendiri sebuah perusahaan riset Pro Thera Biologisc di Rhode Island, Amerika Serikat. Di tempat riset Prof Yow ini sudah banyak berkontribusi melakukan penelitian terutama masalah pemahaman seputar molekul kanker dan anthrax.
Barangkali gelar akademis yang diraih Kent Sutanto ini tentulah langka. Pria kelahiran Surabaya 1951 silam itu meraih gelar doktor di Jepang. Tidak tanggung-tanggung gelar doktor yang diraih Kent di negeri sakura itu sebanyak empat gelar dari universitas yang bebeda. Saat ini Kent Sutanto mengajar di Universitas Waseda, kampus almamaternya. Selain itu Kent Sutanto juga sebagai dosen tamu di Universitas Venesia, Italia. Karena otaknya yang cemerlang, pria asal Surabaya yang sudah 35 tahun tinggal di Jepang itu mendapat kepercayaan pemerintah setempat duduk di MITI, semacam Departemen dan Perindustrian Jepang.
Menilik prestasi dan kegigihan orang-orang Indonesia ini memang tidak kalah bahkan setara dengan ilmuwan dunia. Walau kondisi pendidikan di tanah air dirasa masih belum kondusif mereka mampu menembus ruang dan waktu berkiprah cemerlang di tingkat internasional. Mereka mengaku masih betah mengabdi di mancanegara. Mereka belum berniat untuk berkiprah di tanah air, karena mereka trauma ilmu yang mereka raih dengan susah payah itu tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya. ( end )

http://www.kickandy.com