Wednesday, February 10, 2010

Gara-gara Rp 300 Juta


Seorang ibu datang ke rumah Pak Gendu membawa sebuah kantong kertas berwarna coklat. “Ini titipan dari suami saya,” ujar sang ibu. Ketika kantong kertas itu dibuka, Hartono terperanjat dan menatap sang ibu dengan pandangan tidak mengerti. “Suami saya titip untuk diberikan kepada Pak Gendu,” ibu setengah baya itu menegaskan.
Sekali lagi Hartono melongok ke dalam kantong kertas itu dan sekali lagi dia tidak percaya pada apa yang dilihatnya. Di dalam kantong kertas itu terdapat gepokan uang kertas yang tersusun rapi. Setelah dikeluarkan dan dihitung, jumlah seluruhnya Rp 300 juta! “Jujur saja kami kaget. Tidak terbayang ada uang kontan sebanyak itu dimasukan ke dalam kantong kertas begitu saja,” ungkap Hartono. “Lebih terkejut lagi karena ibu tadi bilang semua uang itu untuk Pak Gendu.”

Kisah di atas diungkapkan Hartono, cucu Pak Gendu, ketika tampil sebagai narasumber dalam diskusi buku yang diselenggarakan Kick Andy Books Club di Toko Buku Kinokuniya Plasa Senayan, Sabtu pertengahan Januari lalu.

Menurut Hartono, ibu tersebut mengaku sang suami yang sedang sakit berat, sebelum ajal menjemput, ingin memberikan uang tabungannya kepada Pak Gendu. Ini semacam wasiat. Keinginan tersebut lahir pada saat dia menonton Kick Andy di Metro TV. Pada saat itu Kick Andy sedang mengangkat topik tentang orang-orang yang dalam keterbatasannya berbuat sesuatu untuk membantu orang lain. Salah satu “pahlawan” yang diceritakan dalam topik itu adalah Pak Gendu.

Pak Gendu adalah seorang “jawara” yang terpanggil untuk merawat dan menyembuhkan orang-orang gila yang berkeliaran di jalanan. Mulanya hati Pak Genduh merasa iba dan tergerak ketika melihat ada orang gila yang dikejar dan dilempari batu oleh anak-anak di kampungnya. Orang gila tersebut lalu dibawa ke rumahnya kemudian dirawat sehingga sembuh. Sejak itu dia dan keluarganya rajin mencari orang-orang gila yang berkeliaran di jalan-jalan untuk dibawa pulang, dirawat, dan disembuhkan.

Pak Gendu kini sudah berumur 80 tahun. Fisiknya sudah lemah. Sakit-sakitan dan mengandalkan kursi roda. Tetapi semangat Pak Gendu tidak pernah surut. Begitu pula kegiatan “menyelamatkan” orang-orang sakit jiwa dilanjutkan oleh anak dan cucunya. Sampai saat ini sudah ribuan orang gila yang ditampung dan dirawat di rumahnya di Bekasi, Jawa Barat.

Karena kegiatannya itu, tahun lalu Kick Andy menganugerahi Pak Gendu penghargaan “Kick Andy Heroes”. Acara pemberian penghargaan tersebut ditayangkan di Metro TV. Nah, tayangan tersebutlah yang kemudian menggerakan hati suami sang ibu yang waktu itu sedang menonton acara Kick Andy.

Saya sendiri baru mendengar kisah uang Rp 300 juta tersebut. Di depan para peserta bedah buku “7 Heroes” yang hadir Sabtu itu, secara terbuka dan tulus Hartono – atas nama Pak Gendu dan keluarganya – mengucapkan terima kasih kepada Kick Andy. “Gara-gara nonton Kick Andy, suami ibu itu tergerak untuk menyumbangkan uangnya ke yayasan yang diasuh Pak Gendu,” tuturnya.

Saya tidak dapat mengucapkan kata-kata. Saya terharu. Saya tidak membayangkan sebuah topik yang saya angkat di Kick Andy dapat menggerakan hati seseorang. Saya juga tidak membayangkan jika seseorang yang pada saat itu merasa hendak pergi untuk selama-lamanya, tergerak memberikan tabungannya guna membantu orang lain yang hanya disaksikannya melalui layar televisi.

sumber : kickandy.com

Wednesday, January 20, 2010

Berprestasi di Negeri Orang


Sudah tidak bisa disangkal lagi, mutu pendidikan di Indonesia banyak dikeluhkan berbagai kalangan. Dari tahun ke tahun selalu fasilitas sarana dan pendanaan yang menjadi faktor kendala utama. Dan, ini tentu saja berakibat mutu lulusannya dipertanyakan. Kita mungkin sudah ketinggalan jauh di tingkat regional Asia Tenggara, terutama dari negara Singapura atau Malaysia.
Di tengah keterpurukan soal mutu dunia pendidikan kita, ternyata tidaklah sama dengan tingkat intelegensi manusia Indonesianya. Sejumlah orang Indonesia ternyata banyak yang berotak encer. Mereka bekerja di luar negeri seperti di Eropa, Amerika dan Jepang. Bahkan berhasil menduduki posisi penting.
Suhendra misalnya. Pria kelahiran Jakarta, 17 November 1975 itu, saat ini bekerja pada Badan Peneliti Jerman, BAM di Berlin. Alumnus Universitas Diponegoro Semarang itu berhasil bekerja sebagai peneliti di Jerman setelah meraih gelar doktor di sebuah univeritas teknik di Jerman. Uniknya, Suhendra yang ahli di bidang metal eksplosif itu membiayai kuliahnya dengan bekerja serabutan dan mengumpulkan botol bekas.
Jabatan yang diraih Andreas Raharso mungkin membuat kita berdecak kagum. Pria berusia 44 tahun itu saat ini menduduki pimpinan atau CEO pada sebuah lembaga riset global Hay Group yang berkantor di Singapura. Hay Group sendiri mempunyai jaringan di hampir belahan dunia dan berkantor pusat di Amerika. Klien dari Hay Group ini kebanyakan adalah para pimpinan dunia seperti Amerika serikat, Perancis dan Inggris. Jabatan yang diraih Andreas Raharso cukup fenomenal, karena merupakan satu-satunya orang Asia yang berhasil menduduki posisi puncak. Selama ini jabatan itu didominasi warga Amerika dan Eropa.
Satu lagi orang Indonesia yang berhasil menduduki posisi penting adalah Profesor Yow Pin Liem. Pria 49 tahun asal Cirebon, Jawa Barat itu adalah pimpinan dan pendiri sebuah perusahaan riset Pro Thera Biologisc di Rhode Island, Amerika Serikat. Di tempat riset Prof Yow ini sudah banyak berkontribusi melakukan penelitian terutama masalah pemahaman seputar molekul kanker dan anthrax.
Barangkali gelar akademis yang diraih Kent Sutanto ini tentulah langka. Pria kelahiran Surabaya 1951 silam itu meraih gelar doktor di Jepang. Tidak tanggung-tanggung gelar doktor yang diraih Kent di negeri sakura itu sebanyak empat gelar dari universitas yang bebeda. Saat ini Kent Sutanto mengajar di Universitas Waseda, kampus almamaternya. Selain itu Kent Sutanto juga sebagai dosen tamu di Universitas Venesia, Italia. Karena otaknya yang cemerlang, pria asal Surabaya yang sudah 35 tahun tinggal di Jepang itu mendapat kepercayaan pemerintah setempat duduk di MITI, semacam Departemen dan Perindustrian Jepang.
Menilik prestasi dan kegigihan orang-orang Indonesia ini memang tidak kalah bahkan setara dengan ilmuwan dunia. Walau kondisi pendidikan di tanah air dirasa masih belum kondusif mereka mampu menembus ruang dan waktu berkiprah cemerlang di tingkat internasional. Mereka mengaku masih betah mengabdi di mancanegara. Mereka belum berniat untuk berkiprah di tanah air, karena mereka trauma ilmu yang mereka raih dengan susah payah itu tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya. ( end )

http://www.kickandy.com

Sunday, December 20, 2009

Menggambar Cita - Cita


Ketika seorang anak kecil ditanya apa cita-citanya kelak, pasti jawaban tangkas dan cepat akan langsung terlontar dari bibirnya; dokter, artis, tentara, presiden, dll. Cita-cita begitu mudah masuk ke dalam ruang benak seorang anak-anak karena mereka masih polos dan lugu. Semua karakter impian itu meresap dalam ke dalam pikiran polos mereka, karena mereka melihat betapa indahnya menjadi karakter impian mereka. Mereka sama sekali belum mengetahui betapa banyaknya tingkatan pola tindakan / perilaku yang harus mereka penuhi untuk mencapai posisi pada status atau pangkat kemasyarakaratan itu.

Coba bandingkan ketika pertanyaan yang sama Anda lontarkan kepada anak-anak usia SMP, atau bahkan SMA. Bisa ditebak jawaban mereka tidak sespontan dan seberani sebagaimana saat mereka masih kanak-kanak atau balita. Semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang maka ia akan semakin sulit untuk mengatakan apa cita-cita mereka. Karena dengan bertambahnya ilmu dan memori dalam otak, semakin banyak nalar dan pertimbangan dalam pola berpikir sebelum mengejawantah menjadi sebuah perkataan atau tindakan.

Cita-cita orang seiring pertumbuhan usia dan kedewasaan mereka cenderung akan melebar, tidak spesifik. Meski ada sedikit kadar cita-cita kanak-kanak mereka yang terus mengikuti sampai ujung usia. Rata-rata impian dewasa lebih bersifat materi dan penghargaan.

Namun sering lupa disadari bahwa semakin banyaknya komparasi, akan semakin menjadikan standar / target pencapaian menjadi blur dan bukan mustahil berakhir kepada pudarnya keinginan baik seseorang. Pencapaian menjadi sangat sulit karena semakin banyak pula kompetitor yang berkeinginan sama dengan kita. Ambil contoh, seorang staf yang berkeinginan menjadi seorang manajer, maka dia harus bersaing dan berlomba dengan banyak karyawan lainnya yang berkeinginan sama dengannya. Demikian pun seseorang yang berkeinginan menjadi artis maka dia harus berani menguasai seluas-luasnya pergaulan, karena saat ini perusahaan agensi sedemikian banyaknya.

Kenyataan sementara ada yang berhasil dan ada yang “gagal” mewujudkan cita-cita mereka. Mengganti cita-cita dan kembali “gagal”.

Apakah Anda percaya sebuah pencapaian itu telah ditetapkan mutlak oleh Tuhan kepada orang-orang tertentu ? Apakah Anda mengamini bahwa Tuhan menginginkan si A menjadi begini, dan si B menjadi begitu … seterusnya ?

Apakah cita-cita tidak selalu cocok untuk semua orang ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki kemungkinan yang sama.

Apakah hanya orang-orang tertentu saja yang bisa meraih impian sesuai harapannya ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki kesempatan sama.

Apakah seseorang mesti memiliki kompetensi atau keunggulan yang sama untuk bisa meraih impian yang diinginkannya ? Jawabannya TIDAK, semua orang memiliki keunggulan komparatifnya masing-masing.

Tuhan hanya memilih menetapkan orang-orang secara khusus hanya untuk menjadi Nabi dan RasulNya. Selebihnya kita semua umat manusia ini adalah secitra denganNya. Jadi semua diberikan hak dan kesempatan sama untuk menjadi apapun yang diinginkannya.

Saya mengerti pertanyaan yang terpendam di hati Anda. Mengapa ada orang yang sedemikian mudahnya mencapai impiannya ? Mengapa mereka yang menurut kebanyakan orang seharusnya tidak layak meraih predikat tertentu karena bekal akademik yang kurang memadai ? Dan pertanyaan-pertanyaan bernuansa keraguan lainnya.

Rahasia sederhana dari mereka yang mencapai impiannya meski “tidak pantas dan selayaknya”, adalah karena mereka memiliki gambar cita-cita dan menyimpannya.

Saya mengerti kebingungan di raut wajah Anda; menggambar cita-cita ?

Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan bahwa impian akan tercapai entah kapan, hanya dengan rajin membayangkannya. Benar ?

Mari kita samakan persepsi mulai sekarang. Hapus paradigma hanya membayangkan cita-cita. Membayangkan tanpa tindakan hanya omong kosong.

Sekarang izinkan saya menghapus setitik dari memori ingatan Anda semua, zap ! mulai sekarang Anda tidak akan membayangkan cita-cita Anda dan menunggu tiada berkesudahan. Mulai sekarang ambil pinsil atau alat tulis lainnya. Lalu gambarkanlah apa yang Anda cita-citakan. Berikan warna seindah mungkin agar membangkitkan hasrat Anda untuk penyegeraan terwujudnya cita-cita Anda.

Ambil contoh, Anda menginginkan sebuah mobil, maka gambarkanlah mobil sesuai impian Anda [pastikan mereknya / warnanya / tahun produksinya]. Atau Anda berkeinginan besar menjadi seorang artis hebat, Anda bisa menggambar diri Anda sedang berada di atas panggung megah dengan applaus banyak sekali orang [boleh juga anda gambarkan kostum panggung Anda]. Dan lain sebagainya impian Anda.

Sudah ? Sekarang mari kita sedikit bermain ilmu kebatinan.

Setelah Anda melihat hasil gambaran cita-cita Anda, apakah yang terbaca darinya ? Keagungan, kemegahan, keindahan, kepuasan. Lalu saya yakin Anda tidak akan membantah bahwa untuk mencapai itu semua pasti membutuhkan cara dan sarana, benar ?

Kembali lihatlah dalam-dalam dan renungilah gambar cita-cita Anda tadi. Tambahkanlah sebuah cara lainnya, dan semakin banyak Anda menambahkan cara akan semakin baik.

Selesai dan Anda simpanlah gambaran cita-cita itu.

Oh saya masih membaca raut wajah bingung tentang penglihatan cara dalam sebuah gambar cita-cita.

Begini.

Bila Anda menggambar mobil karena ingin memilikinya, maka cara termudah untuk mengejawantahkan mobil itu menjadi bentuk mobil seutuhnya adalah dengan menabung, untuk menabung caranya Anda harus berperilaku hemat, lalu Anda harus mengupayakan kenaikan penghasilan Anda secara nyata, caranya bekerjalah giat dan jujur. Insya Allah mobil impian Anda akan menghiasi rumah Anda.

Hal sama bisa Anda lakukan untuk rumah idaman, misalnya. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah membuat rancangan denahnya, sehingga Anda bisa mengetahui luas tanah yang harus Anda persiapkan. Dengannya Anda bisa mereka-reka jumlah anggaran yang diperlukan untuk pembangunannya. Alternatif bila belum memiliki dana cukup, Anda memerlukan pinjaman, maka Anda harus memenuhi syarat menciptakan kepercayaan dari bank, yaitu reputasi dan referensi baik dari perusahaan tempat Anda bekerja, dan memiliki tabungan yang grafiknya membukit, bukan menggambarkan grafik gigi ikan piranha [kredit, debit, kredit, debit dan seterusnya tanpa adanya peningkatan saldo].

Bila Anda menginginkan jadi public figure yang dihormati atau menjadi panutan, maka Anda harus menciptakan cara untuk menjadi pribadi yang santun, berwawasan luas, memiliki jaringan pergaulan luas dengan pribadi-pribadi lain yang bisa mendukung dan mengangkat derajat Anda. Bukan berarti Anda harus memilih bergaul dengan orang-orang tertentu saja, Tuhan akan langsung menegur dan membatalkan impian Anda. Bergaullah dengan sebanyak-banyaknya karakter, namun jangan habiskan waktu Anda berkumpul dengan karakter yang mematikan impian Anda.

Sudah mulai terang kan sekarang ?

Jadi jangan lagi bangga dengan membayangkan cita-cita Anda lagi, bertindaklah dengan menggambarkannya, dan Anda akan melihat cara-cara baik darinya untuk ngejawantahnya cita-cita Anda.

Tidak ada kemustahilan, jadilah pemimpin sejati bagi diri Anda sendiri untuk mengendalikan arah masa depan Anda.

Bertindaklah aktif, jangan membayangkan.


Salam gemilang

Oleh : Benedict Agung Widyatmoko